SUKA MEMBACA

Dalam perjalanan ke kantor pagi ini, aku ditemani suara penyiar radio, yang kebetulan membahas masalah ‘suka membaca’ ini. Mereka kedengarannya masih muda, bisa berbicara bahasa Inggris dengan fasih, dan sangat ‘addict’ kepada buku. Dan yang bikin aku iri, betapa luasnya pengetahuan mereka tentang buku. Sebagian buku yang mereka sebut… antara lain karangan Road Dahl…yang sangat aku sukai dan sudah aku baca versi bahasa Indonesianya, ternyata masih banyak versi yang belum aku baca, karena belum ada versi terjemahannya.

Sekarang banyak didengung-dengungkan slogan ‘suka membaca’. Seberapa besar sebetulnya arti penting membaca selain hasil penelitian para ahli… membuka wawasan, mengurangi kepikunan…terutama bila hobby ini dikembangkan sejak kecil.

Aku sebetulnya tidak terlalu memperhatikan efek baik dan buruk membaca, namanya juga hobby. Bahkan kalau hobby kemudian menular kepada anak-anakku, itu bukan aku rancang sedemikian rupa supaya mereka hobby membaca. Pada awalnya mereka hanya menirukan apa yang dilakukan ibunya. Mulai dari senang berkunjung ke toko buku setiap kali ke mall, sampai kebiasaan membaca di mobil atau sebelum tidur. Seperti yang selalu ditulis oleh para pakar pendidikan, pengajaran kebiasaan baik adalah masalah keteladanan. So… iklim membaca di rumah harus diciptakan, agar anak-anak terbiasa dengan iklim tersebut dan membaca bukan lagi sesuatu yang harus diajarkan secara formal.

Yang biasanya aku atur adalah jenis bacaan yang boleh mereka baca. Pada awalnya adalah buku dengan banyak gambar menarik dan sedikit saja teks, seiring dengan meningkatnya kemampuan baca mereka, jumlah teks ini semakin banyak. Yang sedikit aku batasi adalah baca komik, menurutku komik mendidik mereka tidak imajinatif, karena semua adegan tergambar di halaman-halamannya. Bahkan untuk si bungsuku aku menerapkan cara yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia bebas memilih buku apapun di bagian buku anak-anak, dia senang buku pengetahuan binatang, yang menurutku sedikit di atas kemampuan usianya.

Banyak hal baik yang didapat dari kebiasaan membaca buku. Dari 3 anakku, 2 orang suka buku, dan keduanya cepat bisa membaca, bahkan si bungsuku sudah bisa membaca pada umur 4 tahun. Bukan itu yang aku banggakan, tetapi dia punya kebiasaan membaca yang sudah mendarah daging, sampai bisa marah kalau tidak diberi kesempatan baca sebelum tidur. Si sulungku (sekarang sudah kuliah di Amerika), adalah teman berdiskusi macam-macam buku yang kami baca. Dia paling jago membaca buku secara cepat, karena buat dia tidak masalah suatu buku yang dia suka untuk dibaca berulang-ulang.

‘Suka membaca’ adalah awal dari “suka menulis’. Walaupun tidak otomatis kalau orang yang suka membaca adalah orang yang bisa menulis, tetapi relatif mudah bagi para penyuka buku ini untuk belajar menulis. Paling sedikit dia akan mencoba menulis seperti gaya penulis kesayangannya. Dan kayanya dia tidak takut menulis, karena sudah banyak perbendaharaan kalimat dalam kepalanya, yang siap dituangkan dalam bentuk tulisan… mungkin!

‘Suka membaca’ termasuk hobby yang mahal. Mengingat harga buku sekarang ini, kira-kira berapa anggaran yang harus disediakan setiap rumah tangga setiap bulannya, untuk memenuhi hobby ini. Harga buku lokal yang biasa aku beli berkisar antara Rp 50 ribu s.d Rp 100 ribu, seminggu bisa 2 atau 3 buku, sebulan kira-kira Rp 800 ribu s.d Rp 1 juta. Itu belum termasuk buku anak-anak. Jadi biasanya aku atur, kalau pemasukan sedikit meningkat dan tidak ada alokasi yang lebih penting, berarti aku bisa menyisihkan anggaran untuk beli buku or sebaliknya…. Bagaimana dengan keluarga yang pendapatannya terbatas, mungkin mereka bisa nongkrong di toko buku, untuk numpang baca, sedikit ironis, tapi itulah kenyataannya. Bagaimana dengan perpustakaan? Itu belum jadi pilihanku, aku belum pernah dengar ada perpustakaan yang memadai untuk dikunjungi keluarga-keluarga yang ‘suka membaca’, belum lagi harus menyisihkan waktu untuk pergi ke perpustakaan. Soalnya waktuku membaca biasanya di dalam perjalanan kemanapun atau sebelum tidur, tidak cocok untuk penyuka perpustakaan.

Hal jelek lainnya adalah kebanyakan yang punya hobby ini hampir pasti berkacamata minus, karena sering mengabaikan kaidah-kaidah membaca yang benar, misalnya membaca tidak boleh sambil tiduran, membaca dalam cahaya yang cukup, namanya sudah asyik membaca, tidak akan ingat segala aturan membaca yang baik.

Katanya… dengan membaca kita akan membuka pintu dunia… dunia pengetahuan pastinya.

4 Responses so far »

  1. 1

    Kan ada perpus? bisa pinjem buku di sana.

    • 2

      Irene YK said,

      makasih sudah berkunjung mbak lutfi… setuju dengan perpus, tapi kan aku juga nulis komen sedikit ttg perpus, biasanya para kutu buku lebih senang punya buku sendiri daripada pinjam…

  2. 3

    emwei said,

    Ren, kalo suka baca mending beli ebook reader aja. Udh pake teknologi e-ink jd gak bikin mata sakit. Jd kemana2 serasa bw perpus pribadi. Plus gak bikin bingung nyimpen buku2 yg menuh2in rumah.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: