Sosmed menciptakan manusia tidak produktif?

Tidak kenal sosmed hari gini… Bakal jadi pertanyaan. Asosial banget ya nih orang, gak punya akun facebook atau akunnya gak pernah update. Kenapa ya teman yang ini akun whatsapp-nya nebeng punya suami, apa gak keluar ijin suami untuk pegang smartphone sendiri? Walaupun itu pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah sampai langsung ke yang bersangkutan, paling tidak ada bisik-bisik dengan tetangga tentang topik itu.

Coba kita bayangkan dulu berapa alokasi waktu yang diberikan untuk sosmed ini. Ada teman-teman yang dari bangun tidur subuh sampai ditinggal tidur… Eksis terus di grup whatsapp, bukan cuma satu jenis media, tapi kayanya ada di setiap jenis media. Pertanyaannya… Apa ya mata pencaharian utamanya, yang kelihatannya bisa disambi habis-habisan dengan kebutuhan eksis sepanjang waktu di sosmed.

Untung sosmed ini mulai marak setelah anak-anakku lumayan gede, sehingga tidak ada cerita menyuap sambil posting, menyusui sambil chatting… Astaga. Kapan bisa menyiapkan bubur bergizi buat balita tercinta. Atau itu penyebab ramainya tempat penjualan bubur bayi siap saji, praktis dan tidak perlu waktu lama untuk belanja bahan serta menyiapkannya menjadi hidangan sehat untuk ananda.

Bayangkan anak-anak kita yang seharusnya butuh waktu banyak untuk baca buku pelajaran, bikin PR dan tugas-tugas sekolah. Kalau ortu tidak membatasi kegiatan sosmednya… Bagaimana mutu siswa-siswa kita jadinya. Tapi lain anak-anak, lain ortu. Contoh kesenangan utama anandaku terkait sosmed adalah mengupload foto-fotonya dari menit ke menit😱. Mungkin sekarang bukan jamannya anak-anak punya kegemaran membaca buku ya. Tidak ada lagi istilah si kutu buku untuk anak-anak era sosmed. Bahkan segudang buku bundanya di lemari buku samasekali tidak membangkitkan minat ananda untuk menyentuhnya. 

Kalau coba direnungkan, ada banyak waktu terbuang percuma karena terlalu terlibat dengan sosmed ini. Bahkan interaksi keluarga saja dilakukan lewat media ini. Akibatnya banyak orang tidak biasa membaca mimik lawan bicara, lebih paham emoticon yang dipakai untuk melambangkan perasaan lawan bicara😖😫😭😳😀😬. Lama-lama manusia mungkin akan kehilangan kemampuan berbicara dan mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata😬. Belum lagi produktivitas manusia yang kalau ada yang menghitung pasti sudah mengalami penurunan yang signifikan.

Ada juga sih yang menggunakan medsos untuk media membantu bermata pencaharian. Paling sedikit untuk media sarana promosinya, memperluas cakupan pasar dan konsumennya, berkomunikasi dengan konsumennya, melihat kondisi pesaing produk sejenis. Atau bisa juga dijadikan media mendapatkan informasi, misalnya resep-resep masakan, obat-obatan tradisional, mulai dari yang paten sampai dengan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan karena berasal dari sumber yang tidak kompeten😀

Menjadi produktif atau tidaknya medsos ini tergantung pada cara kita memanfaatkannya.

Leave a comment »

Extra ordinary people: Prof. Dr. Padmosantjojo

Kadang -kadang bosan juga baca cerita fiksi yang mudah ditebak endingnya. Kalau rasa itu datang, aku akan mencari topik lain. Kali ini pilihanku jatuh pada sebuah otobiografi seorang dokter, yang pernah top karena berhasil memisahkan kembar siam Yuliana-Yuliani Prof.Dr.Padmosantjojo, kebetulan bukunya lagi obral, mana tebal lagi, lumayan untuk bacaan beberapa malam.

Seperti sudah kuduga, buku ini sangat menarik. Dasar orang pintar, biarpun pengalaman menulisnya paling banyak mungkin cuma jurnal kedokteran, buku ni tidak kalah dengan buku Dahlan Iskan yang dari sononya emang asli penulis. Sebagian besar bercerita tentang pengabdiannya di bidang bedah saraf Indonesia, yang sangat sepi ing pamrih, sampai sengaja cari istri yang mapan supaya kelangsungan rumah tangganya bisa aman dan sentosa. Buku ini tidak melulu berisi istilah-istilah kedokteran yang bikin pusing karena ada juga cerita masa kecil dokter Padmosantjojo, keluarga besarnya, masa pendudukan Jepang, masa-masa kuliahnya, hobbynya, karirnya di kedokteran.

Yang membuat sedikit miris adalah cerita masalah karirnya di bedah saraf yang menunjukkan betapa banyak terjadi pengabaian atau tidak adanya penghargaan negara terhadap orang-orang pintar di Indonesia. Paling jelas adalah cerita masalah pengangkatannya sebagai profesor oleh menteri diknas pada masa itu, yang terjadi karena adanya permintaan pemerintah Belanda untuk mengangkatnya sebagai profesor di universitas Groningen. Kok bisa ya, orang lain yang justru mengakui prestasinya. Hanya karena alasan kepangkatannya belum mencukupi. Bisa saya bayangkan, orang yang sibuk mengabdi seperti beliau, tidak menganggap penting urusan perpangkatan. Padahal kalau mengikuti kata hati, beliau sudah bakalan kabur dari Indonesia, mengingat keahlian langka seperti beliau sangat diminati di luar sono.

Kalau membaca kiprah dr Padmo di buku “aku dan bedah saraf Indonesia” ini, serasa tidak ada nilai pengabdiannya pekerjaanku sebagai akuntan. Semuanya berbau penyelamatan nyawa tanpa pamrih apalagi honor. Jadi malu kalau dengan pengabdian yang secuil saja sudah merasa hebat. Mudah-mudahan buku ini banyak dibaca para generasi muda yang sangat memerlukan rolemodel dari para extra ordinary people seperti beliau. Terimakasih ya Pak Padmo, sudah membagi cerita untuk kami, mudah-mudahan ada buku beginian yang lain lagi.

Leave a comment »

MANUSIA BERUBAH

Banyak orang yang tidak menyadari perubahan yang dia alami sendiri, tapi banyak orang justru bisa merasakan perubahan yang terjadi pada orang lain. Itu mungkin sebabnya, kita bisa mengamati anak-anak kita bertumbuh hari demi hari, tapi kita tidak menyadari diri kita yang menjadi semakin tua.

Masalah selera makanan misalnya, jaman kita sekolah dulu, kita punya tempat-tempat jajan favorit di sekitar sekolah. Setelah lama kita tinggalkan, suatu hari kita kangen dengan rasa nostalgia sekolah itu…yang akhirnya kita kecewa, ternyata jajanan kesukaan kita sudah tidak seenak yang dulu. Padahal kita sudah membawa sepasukan teman kantor, dalam rangka wisata kuliner, mencicipi makanan kebanggaan sekolah kita dulu.

Demikian juga rupanya dengan selera membacaku selama ini. Ini bisa dibaca dari koleksi bukuku dari tahun ke tahun, walaupun ada beberapa periode yang bolong karena masalah keterbatasan ekonomi . Masalah perubahan selera membaca ini tiba-tiba mengilhamiku untuk kembali mengisi blogku yang lama terbengkalai.

Jaman aku SMP dulu, aku tinggal di kota kecil (Magelang) yang pada jaman itu hanya ada 2 toko buku kecil yang jelas sangat tidak lengkap koleksinya, tapi itu tempat favoritku kalau sedang berjalan-jalan dengan keluarga. Jangan bayangkan besarnya Gramedia yang ada di setiap mall saat ini dengan buku-buku yang tidak bisa kita jelajahi sekaligus dalam satu waktu. Saking kecilnya toko buku itu, aku bahkan sampai hapal dengan letak buku ini dan itu di atas rak pajangan. Seingatku waktu itu aku banyak membaca seri Lima Sekawan, Enid Blyton.

Suatu kali berliburlah kami sekeluarga ke ibukota negara. Singkat cerita, mampirlah kami ke toko buku Gunung Agung di Kwitang. Wow… seketika paniklah diriku melihat banyaknya buku-buku yang dijual, sejujurnya itu terjadi karena takut tidak ada satupun buku yang bisa aku bawa pulang, pada jaman itu mana berani minta dibelikan sesuatu yang bukan untuk kepentingan sekolah. Tapi ternyata yang kukhawatirkan tidak terjadi, orang tua mana sih yang tidak bisa membaca keinginan  di mata anaknya ( ini baru kusadari setelah aku mengalaminya). Aku boleh memilih satu buku untuk kubawa pulang. Yang kuingat waktu itu aku memilih buku Marga T, Badai Pasti Berlalu, alasannya adalah buku itu paling tebal diantara semua novel yang terpajang saat itu, yang ada dalam pikiranku saat itu adalah supaya buku itu lama habisnya. Tapi ketebalan buku itu masih jadi andalanku dalam memilih buku bacaan sampai dengan saat ini.

Momen selanjutnya tidak begitu jelas dalam ingatanku, jadi meloncat ke tahun-tahun kuliahku di STAN, yang merupakan sekolah dengan ikatan dinas sehingga aku sudah dapat gaji pada tahun kedua sekolahku, yang pada jaman itu sangat cukup jumlahnya untuk uang saku anak kuliahan. Kampusku dekat dengan Blok M, sehingga hampir setiap saat aku mampir kesana untuk naik dan turun bus. Tentu saja aku sering mampir ke toko buku Gramedia disana. Jaman itu aku melengkapi koleksiku dengan seri  Laura Inggalls Wilder, Little House.  Beberapa karya Marga T masih aku sukai, Rasanya pada masa itu aku bisa memuaskan keingininku untuk beli buku apa saja, tapi ternyata tidak banyak sisa peninggalannya. Namanya mahasiswa, saling pinjam buku, banyak yang tidak kembali, masa-masa ini yang menyebabkan aku mengambil kesimpulan, sebaiknya aku pelit dalam hal pinjam meminjam buku ini. Beberapa waktu yang lalu aku dengar di radio, para kutu buku biasanya tidak terikat dengan bukunya, dia tidak akan pelit meminjamkan bukunya, supaya dia juga bisa meminjam buku orang lain. Aku agak tidak sepaham dengan pendapat ini.

Awal-awal pernikahanku tahun 1990-an, tidak banyak koleksi buku yang masih ada jejaknya,  jaman susah duit lebih. Koleksi buku dimulai lagi saat anak-anakku bisa membaca. Aku membiasakan mereka untuk berekreasi ke toko buku, dengan iming-iming beli buku tentunya. Menyesuaikan diri dengan kebutuhan anakku, aku senang membeli novel-novel cerita anak mulai dari yang modern sampai yang klasik, ini agak banyak rupanya, lumayan untuk mengirit anggaran buku, karena bukunya sekaligus bisa dibaca anakku, setelah lulus screening dari ibunya:

  • Karya-karya Karl May seperti: serial Winnetou, Dan Damai di Bumi
  • Koleksi Astrid Lindgren: serial Pippi si kaus kaki panjang, Lotta
  • Serial Harry Potter
  • Serial Lord of the Ring

Setelah anak-anakku besar dan tinggal di kota terpisah, aku mulai berburu buku sendiri, tanpa harus memikirkan berbagi buku dengan mereka. Ternyata aku mulai bosan dengan jenis-jenis buku di atas. Ini tercermin dari jenis buku yang aku pilih:

  • Biografi: Steven Jobs, Oprah Winfrey
  • Berbau filsafat: Si Cacing dan kotoran kesayangannya – Ajahn Brahm
  • Novel-novel karya pengarang Turki seperti Orhan Pamuk (yang ini bukan bacaan ringan), Tariq Ali
  • Novel-novel pengarang Asia Timur dengan cerita budayanya yang sophisticated

Sayangnya tidak banyak novel pribumi yang aku pilih, bukan karena tidak bagus, tapi pilihan ceritanya tidak orisinal, kurang menarik. Mungkin karena ini bahasa ibuku, aku jadi sangat kritis dengan novel-novel pribumi tersebut. Tapi ada beberapa yang selalu aku tunggu karyanya, antara lain:

  • Andrea Hirata
  • Tere-Liye, ini sebetulnya cerita dunia anak biasa, tapi sangat pas penggambarannya
  • Pengarang buku Lima Menara, Ahmad Fuadi.

Rasanya jenis-jenis bacaan yang aku pilih ini banyak membentuk pribadiku selama ini. Mudah-mudahan bukan hanya seleraku saja yang berubah dari tahun ke tahun, tapi juga pribadiku berubah menjadi yang lebih baik, yang ini tidak bisa aku simpulkan sendiri, orang lain yang boleh mengatakan aku manusia baik atau tidak.

Leave a comment »

SUKA MEMBACA

Dalam perjalanan ke kantor pagi ini, aku ditemani suara penyiar radio, yang kebetulan membahas masalah ‘suka membaca’ ini. Mereka kedengarannya masih muda, bisa berbicara bahasa Inggris dengan fasih, dan sangat ‘addict’ kepada buku. Dan yang bikin aku iri, betapa luasnya pengetahuan mereka tentang buku. Sebagian buku yang mereka sebut… antara lain karangan Road Dahl…yang sangat aku sukai dan sudah aku baca versi bahasa Indonesianya, ternyata masih banyak versi yang belum aku baca, karena belum ada versi terjemahannya.

Sekarang banyak didengung-dengungkan slogan ‘suka membaca’. Seberapa besar sebetulnya arti penting membaca selain hasil penelitian para ahli… membuka wawasan, mengurangi kepikunan…terutama bila hobby ini dikembangkan sejak kecil.

Aku sebetulnya tidak terlalu memperhatikan efek baik dan buruk membaca, namanya juga hobby. Bahkan kalau hobby kemudian menular kepada anak-anakku, itu bukan aku rancang sedemikian rupa supaya mereka hobby membaca. Pada awalnya mereka hanya menirukan apa yang dilakukan ibunya. Mulai dari senang berkunjung ke toko buku setiap kali ke mall, sampai kebiasaan membaca di mobil atau sebelum tidur. Seperti yang selalu ditulis oleh para pakar pendidikan, pengajaran kebiasaan baik adalah masalah keteladanan. So… iklim membaca di rumah harus diciptakan, agar anak-anak terbiasa dengan iklim tersebut dan membaca bukan lagi sesuatu yang harus diajarkan secara formal.

Yang biasanya aku atur adalah jenis bacaan yang boleh mereka baca. Pada awalnya adalah buku dengan banyak gambar menarik dan sedikit saja teks, seiring dengan meningkatnya kemampuan baca mereka, jumlah teks ini semakin banyak. Yang sedikit aku batasi adalah baca komik, menurutku komik mendidik mereka tidak imajinatif, karena semua adegan tergambar di halaman-halamannya. Bahkan untuk si bungsuku aku menerapkan cara yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia bebas memilih buku apapun di bagian buku anak-anak, dia senang buku pengetahuan binatang, yang menurutku sedikit di atas kemampuan usianya.

Banyak hal baik yang didapat dari kebiasaan membaca buku. Dari 3 anakku, 2 orang suka buku, dan keduanya cepat bisa membaca, bahkan si bungsuku sudah bisa membaca pada umur 4 tahun. Bukan itu yang aku banggakan, tetapi dia punya kebiasaan membaca yang sudah mendarah daging, sampai bisa marah kalau tidak diberi kesempatan baca sebelum tidur. Si sulungku (sekarang sudah kuliah di Amerika), adalah teman berdiskusi macam-macam buku yang kami baca. Dia paling jago membaca buku secara cepat, karena buat dia tidak masalah suatu buku yang dia suka untuk dibaca berulang-ulang.

‘Suka membaca’ adalah awal dari “suka menulis’. Walaupun tidak otomatis kalau orang yang suka membaca adalah orang yang bisa menulis, tetapi relatif mudah bagi para penyuka buku ini untuk belajar menulis. Paling sedikit dia akan mencoba menulis seperti gaya penulis kesayangannya. Dan kayanya dia tidak takut menulis, karena sudah banyak perbendaharaan kalimat dalam kepalanya, yang siap dituangkan dalam bentuk tulisan… mungkin!

‘Suka membaca’ termasuk hobby yang mahal. Mengingat harga buku sekarang ini, kira-kira berapa anggaran yang harus disediakan setiap rumah tangga setiap bulannya, untuk memenuhi hobby ini. Harga buku lokal yang biasa aku beli berkisar antara Rp 50 ribu s.d Rp 100 ribu, seminggu bisa 2 atau 3 buku, sebulan kira-kira Rp 800 ribu s.d Rp 1 juta. Itu belum termasuk buku anak-anak. Jadi biasanya aku atur, kalau pemasukan sedikit meningkat dan tidak ada alokasi yang lebih penting, berarti aku bisa menyisihkan anggaran untuk beli buku or sebaliknya…. Bagaimana dengan keluarga yang pendapatannya terbatas, mungkin mereka bisa nongkrong di toko buku, untuk numpang baca, sedikit ironis, tapi itulah kenyataannya. Bagaimana dengan perpustakaan? Itu belum jadi pilihanku, aku belum pernah dengar ada perpustakaan yang memadai untuk dikunjungi keluarga-keluarga yang ‘suka membaca’, belum lagi harus menyisihkan waktu untuk pergi ke perpustakaan. Soalnya waktuku membaca biasanya di dalam perjalanan kemanapun atau sebelum tidur, tidak cocok untuk penyuka perpustakaan.

Hal jelek lainnya adalah kebanyakan yang punya hobby ini hampir pasti berkacamata minus, karena sering mengabaikan kaidah-kaidah membaca yang benar, misalnya membaca tidak boleh sambil tiduran, membaca dalam cahaya yang cukup, namanya sudah asyik membaca, tidak akan ingat segala aturan membaca yang baik.

Katanya… dengan membaca kita akan membuka pintu dunia… dunia pengetahuan pastinya.

Comments (4) »

THE WHITE MASAI – Sampai Dimana Kekuatan Cinta ?

Merupakan pengalaman pribadi seorang Corinne Hofmann, perempuan dari peradaban modern yang jatuh cinta dengan pemuda dari Suku Masai di Kenya, sampai rela meninggalkan dunianya di Swiss, dan tinggal di gubuk semak-semak dengan segala kesulitannya, demi tinggal dengan kekasih pilihan hatinya.
Apakah ini yang dinamakan kekuatan cinta, melihat betapa gigihnya Corinne dalam menghadapi setiap kesulitan yang sangat tidak biasa dan di luar akal sehat manusia normal. Bayangkan dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang pria yang mungkin memang tampan, tapi jelas tidak berpendidikan, tidak dikenal latar belakangnya dan jelas berbeda ras dan budaya. Untuk masa depan yang sangat tidak dapat dibayangkan itu, dia rela meninggalkan segala fasilitas hidup mapannya untuk masuk dunia primitif kekasihnya hidup di alam terbuka belantara Afrika, di tengah suku primitif yang tidak dia kenal bahasa dan adat istiadatnya.
Tentu tidak mudah bagi Corinne menjalani semua itu. Sebagian besar isi buku ini menceritakan bagaimana dia menghadapi kesulitan demi kesulitan, mulai dari bagaimana dia berurusan dengan aparat hukum di negara berkembang karena kekasihnya masuk penjara akibat masuk wilayah terlarang bagi penduduk asli, segala usahanya mulai dari mengejar kekasihnya ke kampung halamannya dengan fasilitas transportasi yang mengerikan sampai dengan usaha mendapatkan pernikahan yang resmi diakui oleh hukum negara Kenya. Belum lagi kesulitannya mencari pencaharian supaya mempunyai penghasilan untuk hidup lebih nyaman mengingat kekasih eksotisnya itu ternyata tidak punya kemauan dan kemampuan untuk membiayai kehidupan rumah tangga mereka. Tentu saja ada juga kesulitannya dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari suku itu, misalnya makanan yang tidak sesuai, tidur di manyatta (gubuk tempat tinggal Suku Masai) yang tidak adanya fasilitas kamar mandi yang sangat tidak terbayangkan bagi manusia beradab, sakit malaria dan hepatitis yang dialaminya karena gaya hidup yang tidak hygienis sampai pada pengalaman hampir mengalami klitorektomi (pengangkatan klitoris) yang biasa dilakukan pada perempuan disana sebelum mereka menikah (OMG!)
Semuanya diceritakan dengan cara yang menarik, sehingga walaupun di satu sisi cerita ini tidak dapat diterima manusia-manusia rasionalis, tapi punya nilai tidak biasa di sisi yang lain.
Pelajaran yang bisa diambil dari buku ini adalah ternyata pada akhirnya perbedaan yang terlalu besar itu tidak dapat dipersatukan. Mereka berpisah setelah 4 tahun bersama dan mereka makin tidak dapat memahami satu sama lain yang menyebabkan banyak pertengkaran terjadi, dan diakhiri dengan kaburnya Corinne beserta buah hatinya kembali ke negara asalnya.
Inilah cerita tentang kekuatan cinta yang tidak terbayangkan, yang mampu menghadapi segala kesulitan untuk memenangkan cinta, namun ternyata kekuatan cintapun tidak dapat menjembatani perbedaan yang begitu lebar. Baca deh… bagus bukunya.

 

Leave a comment »

CERITA ANJING (DOG STORIES)

Kita sering kesulitan mendapatkan ide untuk menulis, padahal banyak buku bagus cuma berasal dari ide yang sederhana. contohnya Dog Stories dari James Herriot’s ini. Idenya adalah menulis pengalaman pribadinya sebagai seorang dokter hewan yang bukan spesialis anjing sebenarnya, tetapi juga segala jenis hewan seperti sapi, kuda, domba dan babi, namun karena cita-cita masa kecilnya adalah ‘dokter anjing’ dan pergaulannya yang intensif dengan anjing sebagai teman maupun pasien selama karir kedokteran hewannya, sehingga anjinglah yang jadi topik bahasannya.

Sebenarnya aku bukan penyuka hewan jenis apapun, walaupun beberapa kali di masa kecilku aku punya juga anjing peliharaan. Samar-samar aku ingat nama-namanya Blacky, nama umum anjing berwarna hitam; Boomer, nama anjing pemeran film anak-anak pada masa itu; hanya anjing-anjing kampung biasa, dan setelah dewasa aku memutuskan tidak menyukai jilatannya atau bau anjing dan kotorannya, mengingat waktu itu kami tidak mengenal dokter anjing atau pelatih anjing profesional, sehingga tidak tahu bahwa ada toilet training untuk anjing yang biaya sekolahnya lebih mahal dari spp bulanan sekolah anakku. Buku ini menarik untuk orang awam ilmu anjing, apalagi buat penyuka. Ada bermacam-macam jenis anjing selain anjing kampung yang aku kenal diceritakan di buku ini seperti: Bull Mastiff , Alsatian, Old English Sheepdog, Great DaneIrish Wolfhound, Border Terrier, Fox Terrier, Yorkshire Terrier, Jack Russell, spaniel, Boxer, retriever. dachshund, irish setter, pudel, labrador,

Sangat menarik mengetahui ternyata ada macam-macam sifat anjing:

  • Ada anjing tidak bakal lupa, ini diceritakan dalam kisah magnus, seekor miniature dachshund yang galak, sehingga menimbulkan kesulitan pemilik maupun dokternya untuk memotong kukunya. Untuk memudahkan proses potong kuku ini, magnus harus diberangus moncongnya dan dikepit di lengan supaya tidak bergerak. Akibatnya anjing ini sangat dendam pada dokter Herriot ini sehingga hanya dengan mendengarkan suara dokter ini saja, Magnus menyalak heboh.
  • Ada anjing yang tidak mendendam walaupun sudah ditangani secara menyakitkan oleh dokternya. Ini ada dalam kisah Rock seekor anjing Irlandia yang dua kakinya terjepit perangkap pemburu selama 48 jam dan hampir busuk jaringan kakinya. Akibatnya setiap hari lukanya harus dibersihkan dengan cara mengorek jaringan matinya, diberi obat, dan dibalut selama beberapa kali. Yang mengagumkan adalah anjing ini selalu bersikap tenang saat dirawat seolah-olah sangat berterima kasih.
  • Kebanyakan anjing berbadan besar biasanya punya tabiat tenang. Tapi jangan coba-coba mendekati anjing betina yang baru melahirkan sekalipun dia punya sifat dasar tenang, karena anjing ini akan menyangka kita mau mengambil anak-anaknya. Ini pernah dialami sang penulis yang diserang anjing betina dalam kondisi demikian. Tapi ada juga anjing betina seperti di atas yang tidak keberatan didekati, bahkan katanya memperlihatkan kebanggaannya dengan cara mengibas-ngibaskan ekornya (apa iya?)

Juga  banyak diceritakan  disini kisah unik antara anjing dan pemiliknya:

  • Gyp seekor anjing gembala yang hanya pernah menyalak sekali seumur hidupnya saat bertemu dengan sahabatnya sesama anjing yang sudah berpindah majikan.
  • Cedric seekor boxer yang suka buang gas sembarangan. Pemiliknya semula adalah seorang kalangan atas yang tentunya sangat keberatan jika anjingnya memperlihatkan kebiasaan yang memalukan itu di tengah-tengah kalangannya. Tetapi akhirnya Cedric menemukan majikan yang tidak mempunyai indra penciuman lagi sehingga tidak mempermasalahkan kekurangannya ini.
  • Bahkan ada juga kisah cinta dokter ini dengan mantan pacar yang akhirnya menjadi istrinya, tentu saja juga dipertemukan karena anjing🙂

Buku Dog Stories ini lumayan tebal, tapi ditanggung tidak bosan membacanya. Banyak kisah inspiratif yang bisa diambil dari pengalaman hidup kita sehari-hari. Tinggal bagaimana cara kita menuangkannya dalam bentuk tulisan yang menarik pembaca.

Comments (2) »

Sudah Terlalu Banyak Minum Teh

Cerita ini terinspirasi buku spiritual berjudul ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya‘ yang walaupun merupakan karya seorang Biksu Budha yaitu Ajahn Brahm, tetapi berisi nasihat-nasihat yang sangat universal sifatnya.
Buku ini berisi kumpulan banyak cerita yang diistilahkan sebagai cerita pembuka pintu hati, yang disampaikan secara ringkas, ringan tapi menghibur dan mencerahkan pembacanya. Salah satu cerita yang aku sukai adalah yang berjudul ‘Minum Teh Ketika Tak Ada Jalan Keluar”.

Cerita ringkasannya: ada seorang guru yang bertugas sebagai tentara pada perang dunia II, pada suatu hari waktu mereka sedang berpatroli, tiba-tiba ada kabar dari prajurit pengintai bahwa mereka sudah terkepung tentara jepang yang jumlahnya lebih banyak. Tentara ini berharap kaptennya akan memerintahkan mereka bertempur secara jantan sampai titik darah penghabisan, sehingga kalaupun kalah adalah kalah secara terhormat, ternyata sang kapten tidak seperti itu, malah memerintahkan prajuritnya untuk tetap diam, duduk dan membuat secangkir teh. Walaupun heran dan jengkel, mereka harus mematuhinya, jadi mereka membuat teh yang mungkin akan jadi cangkir teh terakhirnya. Sebelum habis tehnya, datang lagi prajurit pengintai dan ternyata musuh telah pergi sehingga mereka bisa keluar dengan selamat. Prajurit tersebut merasa sangat berhutang budi pada kaptennya, karena hal tersebut kemudian menjadi falsafah hidupnya. Di luar perang ada musuh lain seperti sakit parah, kesulitan-kesulitan, yang seolah tidak ada jalan keluar, yang kalau dipaksakan bertempur malah membuat tambah runyam. Lebih baik membuat secangkir teh saja yang diartikan sebagai menghemat kekuatan menanti saat ada kesempatan untuk melepaskan diri dari masalah.

Anakku yang pertama sudah empat tahun merantau ke Amrik sejak dia lulus SMP. Tentu bukan hal yang mudah menjalani semua itu, di usia yang belum matang harus berpisah dengan orang tua, tinggal di negeri orang dengan om dan tantenya yang belum pernah punya anak ABG. Apalagi sampai dengan tahun keempat ini belum pernah dia bertemu dengan orang tuanya karena berbagai alasan dan keterbatasan. Komunikasi dilakukan dengan cara telepon, surat, email yang tentunya tidak lancar seperti anak yang tinggal dengan orang tuanya.
Saat ini dia sudah masuk college tahun pertama, ada kalanya dia dikepung oleh rasa bosan, homesick yang luar biasa, kurangnya motivasi dan tantangan yang cukup menyesakkannya. Sampai suatu kali dia tidak tahan lagi dan ingin pindah sekolah di lain benua, supaya bisa sekaligus pulang ke Indonesia. Sebagai orang tua yang merasa prihatin akan kondisi ini, dikirimlah segudang nasihat, diantaranya hasil baca buku Ajahn Bramh itu. Kalau saya merasa sangat terkesan dengan kisah ini, sebaliknya dengan anakku, dia hanya menanggapi dengan kata-kata “Mama, aku sudah terlalu banyak minum teh, 4 tahun belakangan ini bahkan aku minum teh terus,  jangan ditambah lagi” 😕 sebetulnya aku mengerti maksudnya, dia sudah mencoba menunggu, tapi situasinya tidak berubah juga. Maklumlah anak muda, tidak pernah mau kompromi  dengan istilah menunggu.

Singkat cerita, sampai dengan saat ini dia masih bersekolah di tempatnya yang lama, setelah mendengarkan berbagai nasihat dan pendapat kiri dan kanan. Ternyata memang tidak mudah kita melaksanakan kebijakan yang sebenarnya sudah kita pahami, kalau kita ada dalam posisi sulit itu sendiri. Mungkin nanti kalau kita sudah lepas dari kesulitan itu, baru kita bisa mengambil hikmah dari permasalahan itu dengan lebih jernih dan bijak.

😉 Doa mama selalu mengiringi perjuanganmu, anakku😉

Leave a comment »