“Mama Kok Beli Buku Terus…!!!”

Pendapat bernada marah ini keluar dari mulut anakku yang memang tidak hobby membaca. Konteksnya memang dia sedang minta pengeluaran lain yang dianggap buang-buang duit oleh orang-tuanya, keruan saja dia langsung menyerang dari sisi kelemahan mamanya yaitu ‘boros’ kalau menyangkut perbukuan. Dia masih menganggap buku adalah kebutuhan sekunder bahkan tersier, sementara aku yang sudah dalam taraf  ‘addict’ sudah menganggap buku adalah kebutuhan primer yang kalau tidak dipenuhi bakal mengganggu proses kehidupan (lebay banget ya).

Kalau dilihat dari sisi prosentase pengeluaran rumah tangga setiap bulan saja, pendapat itu masih kurang relevan, mengingat aku menyisihkan hanya paling banyak 10% dari belanja bulanan kami, apalagi buku segitu bukan semuanya untukku, ada buku si bonthot juga, bahkan kadang-kadang termasuk buku si tukang protes itu juga. Apalagi kalau dilihat dari tidak adanya pengeluaran lain yang sejenis, misalnya majalah atau surat kabar karena beritanya bisa dibaca lewat internet secara gratis, apalagi kalau pakai jaringan internet kantor. Atau jika perempuan-perempuan lain rutin membeli peralatan berdandan, perhiasan, accesorries, dlsb…aku tidak merasa terlalu hobby untuk kebutuhan itu, so… aku anggap wajar dong kalau beli buku lebih dari satu eksemplar.

Kalau dibanding dengan teman-teman kantor, yang notabene setara tingkat pendidikannya, tidak jauh beda tingkat pendapatannya,  ternyata pendapat anakku itu tidak salah. Memang mereka tidak bilang bahwa beli buku itu boros, cuma mereka tidak punya buku bacaan sebanyak bukuku. Kebetulan tugas kami sehari-hari sering berkaitan dengan travelling yang terkadang memakan waktu banyak. Sehingga kalau teman-temanku mengisi waktu perjalanan dengan browsing, ngobrol, atau tidur begitu duduk di dalam pesawat, aku pasti segera mencari posisi uenak yang pas untuk membaca buku.

Apalagi kalau dibandingkan dengan kebanyakan orang yang aku temui, misalnya  dalam perjalanan dinasku, atau dulu aku selalu berangkat kantor naik kereta, ternyata juga tidak banyak orang menghabiskan waktu dengan membaca buku seperti aku. Apa ini bisa disimpulkan bahwa membaca itu belum membudaya dalam masyarakat kita? padahal membaca itu awal dari penguasaan ilmu apapun, bagaimana kita bisa menambah wawasan kalau kita tidak membiasakan diri membaca?

Banyak orang bilang, dan aku setuju, buku kita dijual mahal. Tidak banyak akses ke buku murah. Kalaupun ada buku murah pada event pameran buku misalnya, pasti buku yang dijual adalah buku kedaluwarsa, yang sialnya aku beli juga, lumayan menambah bahan bacaan, supaya tidak cepat habis persediaan buku bacaan. Atau kalau buku tersebut dibajak karena isinya yang kontroversial, sehingga ada di setiap lampu merah perempatan jalan. Sayangnya para pembajak itu tidak paham mana buku yang bagus dan perlu dibajak. Dan proses bajak membajak ini sesuai hukum pasar membuktikan kalau buku asli memang mahal sehingga perlu dibikin substitusinya kalau pasar memaksa. Sekarang ini dikenal adanya e-book, yang dianggap lebih murah daripada buku hasil cetakan, tetapi untuk mengaksesnya diperlukan perangkat keras yang lumayan mahal selain akses internet yang tidak semua lapisan masyarakat sanggup membayarnya.

Bagaimana menumbuhkan budaya baca? Ada pepatah orang bijak yang menyatakan ‘mulailah perubahan dari dirimu sendiri’, aku juga setuju ini sehingga dari kecil aku sudah biasakan ketiga anakku untuk mengenal buku, mulai dari buku bergambar indah (dan sayangnya mahal), kemudian ditambah sesuai umur dengan teks yang menumbuhkan minat membaca. Aku menganggapnya cukup berhasil, karena dua diantaranya berhasil menjadi kutu buku seperti mamanya. Bahkan si bonthotku belum mau tidur kalau belum membaca buku yang dia pilih sendiri dari koleksinya yang sudah lumayan banyak. Sekarang ini sudah cukup banyak jenis buku anak yang tersedia, cuma kebanyakan juga terjemahan atau saduran dari luar, sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu terjadi, misalnya…. ‘kenapa disini tidak pernah turun salju?’ …atau …’kapan kita naik kereta seperti ini?’ (sambil menunjuk gambar kereta super cepat dan super canggih). Dalam beberapa perjalanan jauhnyapun aku bawakan beberapa buku bacaan untuk mengisi waktu luangnya.

So…aku merindukan saat para kutu buku tidak dianggap orang ‘terisolir’ karena asyik dengan dunianya sendiri. Banyak lho kegunaan membaca, bahkan menurut hasil penelitian, dengan banyak membaca , otak kita akan terhindar dari kepikunan…hiiiy….Dengan luasnya wawasan kita karena membaca, akan terbuka pikiran kita melakukan sesuatu yang berguna. Apa artinya hidup kita kalau tidak melakukan sesuatu yang berguna, paling sedikit untuk diri sendiri, lebih bagus lagi kalau berguna untuk banyak orang. Yok…membaca!

2 Responses so far »

  1. 1

    iya ini sudah mulai terbukti..anak2 saya dipaksakan untuk membaca setiap hari dan hasilnya mereka termasuk anak2 diatas rata2 anak diumur mereka dikelas


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: