Sudah Terlalu Banyak Minum Teh

Cerita ini terinspirasi buku spiritual berjudul ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya‘ yang walaupun merupakan karya seorang Biksu Budha yaitu Ajahn Brahm, tetapi berisi nasihat-nasihat yang sangat universal sifatnya.
Buku ini berisi kumpulan banyak cerita yang diistilahkan sebagai cerita pembuka pintu hati, yang disampaikan secara ringkas, ringan tapi menghibur dan mencerahkan pembacanya. Salah satu cerita yang aku sukai adalah yang berjudul ‘Minum Teh Ketika Tak Ada Jalan Keluar”.

Cerita ringkasannya: ada seorang guru yang bertugas sebagai tentara pada perang dunia II, pada suatu hari waktu mereka sedang berpatroli, tiba-tiba ada kabar dari prajurit pengintai bahwa mereka sudah terkepung tentara jepang yang jumlahnya lebih banyak. Tentara ini berharap kaptennya akan memerintahkan mereka bertempur secara jantan sampai titik darah penghabisan, sehingga kalaupun kalah adalah kalah secara terhormat, ternyata sang kapten tidak seperti itu, malah memerintahkan prajuritnya untuk tetap diam, duduk dan membuat secangkir teh. Walaupun heran dan jengkel, mereka harus mematuhinya, jadi mereka membuat teh yang mungkin akan jadi cangkir teh terakhirnya. Sebelum habis tehnya, datang lagi prajurit pengintai dan ternyata musuh telah pergi sehingga mereka bisa keluar dengan selamat. Prajurit tersebut merasa sangat berhutang budi pada kaptennya, karena hal tersebut kemudian menjadi falsafah hidupnya. Di luar perang ada musuh lain seperti sakit parah, kesulitan-kesulitan, yang seolah tidak ada jalan keluar, yang kalau dipaksakan bertempur malah membuat tambah runyam. Lebih baik membuat secangkir teh saja yang diartikan sebagai menghemat kekuatan menanti saat ada kesempatan untuk melepaskan diri dari masalah.

Anakku yang pertama sudah empat tahun merantau ke Amrik sejak dia lulus SMP. Tentu bukan hal yang mudah menjalani semua itu, di usia yang belum matang harus berpisah dengan orang tua, tinggal di negeri orang dengan om dan tantenya yang belum pernah punya anak ABG. Apalagi sampai dengan tahun keempat ini belum pernah dia bertemu dengan orang tuanya karena berbagai alasan dan keterbatasan. Komunikasi dilakukan dengan cara telepon, surat, email yang tentunya tidak lancar seperti anak yang tinggal dengan orang tuanya.
Saat ini dia sudah masuk college tahun pertama, ada kalanya dia dikepung oleh rasa bosan, homesick yang luar biasa, kurangnya motivasi dan tantangan yang cukup menyesakkannya. Sampai suatu kali dia tidak tahan lagi dan ingin pindah sekolah di lain benua, supaya bisa sekaligus pulang ke Indonesia. Sebagai orang tua yang merasa prihatin akan kondisi ini, dikirimlah segudang nasihat, diantaranya hasil baca buku Ajahn Bramh itu. Kalau saya merasa sangat terkesan dengan kisah ini, sebaliknya dengan anakku, dia hanya menanggapi dengan kata-kata “Mama, aku sudah terlalu banyak minum teh, 4 tahun belakangan ini bahkan aku minum teh terus,  jangan ditambah lagi” 😕 sebetulnya aku mengerti maksudnya, dia sudah mencoba menunggu, tapi situasinya tidak berubah juga. Maklumlah anak muda, tidak pernah mau kompromi  dengan istilah menunggu.

Singkat cerita, sampai dengan saat ini dia masih bersekolah di tempatnya yang lama, setelah mendengarkan berbagai nasihat dan pendapat kiri dan kanan. Ternyata memang tidak mudah kita melaksanakan kebijakan yang sebenarnya sudah kita pahami, kalau kita ada dalam posisi sulit itu sendiri. Mungkin nanti kalau kita sudah lepas dari kesulitan itu, baru kita bisa mengambil hikmah dari permasalahan itu dengan lebih jernih dan bijak.

😉 Doa mama selalu mengiringi perjuanganmu, anakku😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: