THE WHITE MASAI – Sampai Dimana Kekuatan Cinta ?

Merupakan pengalaman pribadi seorang Corinne Hofmann, perempuan dari peradaban modern yang jatuh cinta dengan pemuda dari Suku Masai di Kenya, sampai rela meninggalkan dunianya di Swiss, dan tinggal di gubuk semak-semak dengan segala kesulitannya, demi tinggal dengan kekasih pilihan hatinya.
Apakah ini yang dinamakan kekuatan cinta, melihat betapa gigihnya Corinne dalam menghadapi setiap kesulitan yang sangat tidak biasa dan di luar akal sehat manusia normal. Bayangkan dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang pria yang mungkin memang tampan, tapi jelas tidak berpendidikan, tidak dikenal latar belakangnya dan jelas berbeda ras dan budaya. Untuk masa depan yang sangat tidak dapat dibayangkan itu, dia rela meninggalkan segala fasilitas hidup mapannya untuk masuk dunia primitif kekasihnya hidup di alam terbuka belantara Afrika, di tengah suku primitif yang tidak dia kenal bahasa dan adat istiadatnya.
Tentu tidak mudah bagi Corinne menjalani semua itu. Sebagian besar isi buku ini menceritakan bagaimana dia menghadapi kesulitan demi kesulitan, mulai dari bagaimana dia berurusan dengan aparat hukum di negara berkembang karena kekasihnya masuk penjara akibat masuk wilayah terlarang bagi penduduk asli, segala usahanya mulai dari mengejar kekasihnya ke kampung halamannya dengan fasilitas transportasi yang mengerikan sampai dengan usaha mendapatkan pernikahan yang resmi diakui oleh hukum negara Kenya. Belum lagi kesulitannya mencari pencaharian supaya mempunyai penghasilan untuk hidup lebih nyaman mengingat kekasih eksotisnya itu ternyata tidak punya kemauan dan kemampuan untuk membiayai kehidupan rumah tangga mereka. Tentu saja ada juga kesulitannya dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari suku itu, misalnya makanan yang tidak sesuai, tidur di manyatta (gubuk tempat tinggal Suku Masai) yang tidak adanya fasilitas kamar mandi yang sangat tidak terbayangkan bagi manusia beradab, sakit malaria dan hepatitis yang dialaminya karena gaya hidup yang tidak hygienis sampai pada pengalaman hampir mengalami klitorektomi (pengangkatan klitoris) yang biasa dilakukan pada perempuan disana sebelum mereka menikah (OMG!)
Semuanya diceritakan dengan cara yang menarik, sehingga walaupun di satu sisi cerita ini tidak dapat diterima manusia-manusia rasionalis, tapi punya nilai tidak biasa di sisi yang lain.
Pelajaran yang bisa diambil dari buku ini adalah ternyata pada akhirnya perbedaan yang terlalu besar itu tidak dapat dipersatukan. Mereka berpisah setelah 4 tahun bersama dan mereka makin tidak dapat memahami satu sama lain yang menyebabkan banyak pertengkaran terjadi, dan diakhiri dengan kaburnya Corinne beserta buah hatinya kembali ke negara asalnya.
Inilah cerita tentang kekuatan cinta yang tidak terbayangkan, yang mampu menghadapi segala kesulitan untuk memenangkan cinta, namun ternyata kekuatan cintapun tidak dapat menjembatani perbedaan yang begitu lebar. Baca deh… bagus bukunya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: