MANUSIA BERUBAH

Banyak orang yang tidak menyadari perubahan yang dia alami sendiri, tapi banyak orang justru bisa merasakan perubahan yang terjadi pada orang lain. Itu mungkin sebabnya, kita bisa mengamati anak-anak kita bertumbuh hari demi hari, tapi kita tidak menyadari diri kita yang menjadi semakin tua.

Masalah selera makanan misalnya, jaman kita sekolah dulu, kita punya tempat-tempat jajan favorit di sekitar sekolah. Setelah lama kita tinggalkan, suatu hari kita kangen dengan rasa nostalgia sekolah itu…yang akhirnya kita kecewa, ternyata jajanan kesukaan kita sudah tidak seenak yang dulu. Padahal kita sudah membawa sepasukan teman kantor, dalam rangka wisata kuliner, mencicipi makanan kebanggaan sekolah kita dulu.

Demikian juga rupanya dengan selera membacaku selama ini. Ini bisa dibaca dari koleksi bukuku dari tahun ke tahun, walaupun ada beberapa periode yang bolong karena masalah keterbatasan ekonomi . Masalah perubahan selera membaca ini tiba-tiba mengilhamiku untuk kembali mengisi blogku yang lama terbengkalai.

Jaman aku SMP dulu, aku tinggal di kota kecil (Magelang) yang pada jaman itu hanya ada 2 toko buku kecil yang jelas sangat tidak lengkap koleksinya, tapi itu tempat favoritku kalau sedang berjalan-jalan dengan keluarga. Jangan bayangkan besarnya Gramedia yang ada di setiap mall saat ini dengan buku-buku yang tidak bisa kita jelajahi sekaligus dalam satu waktu. Saking kecilnya toko buku itu, aku bahkan sampai hapal dengan letak buku ini dan itu di atas rak pajangan. Seingatku waktu itu aku banyak membaca seri Lima Sekawan, Enid Blyton.

Suatu kali berliburlah kami sekeluarga ke ibukota negara. Singkat cerita, mampirlah kami ke toko buku Gunung Agung di Kwitang. Wow… seketika paniklah diriku melihat banyaknya buku-buku yang dijual, sejujurnya itu terjadi karena takut tidak ada satupun buku yang bisa aku bawa pulang, pada jaman itu mana berani minta dibelikan sesuatu yang bukan untuk kepentingan sekolah. Tapi ternyata yang kukhawatirkan tidak terjadi, orang tua mana sih yang tidak bisa membaca keinginan  di mata anaknya ( ini baru kusadari setelah aku mengalaminya). Aku boleh memilih satu buku untuk kubawa pulang. Yang kuingat waktu itu aku memilih buku Marga T, Badai Pasti Berlalu, alasannya adalah buku itu paling tebal diantara semua novel yang terpajang saat itu, yang ada dalam pikiranku saat itu adalah supaya buku itu lama habisnya. Tapi ketebalan buku itu masih jadi andalanku dalam memilih buku bacaan sampai dengan saat ini.

Momen selanjutnya tidak begitu jelas dalam ingatanku, jadi meloncat ke tahun-tahun kuliahku di STAN, yang merupakan sekolah dengan ikatan dinas sehingga aku sudah dapat gaji pada tahun kedua sekolahku, yang pada jaman itu sangat cukup jumlahnya untuk uang saku anak kuliahan. Kampusku dekat dengan Blok M, sehingga hampir setiap saat aku mampir kesana untuk naik dan turun bus. Tentu saja aku sering mampir ke toko buku Gramedia disana. Jaman itu aku melengkapi koleksiku dengan seri  Laura Inggalls Wilder, Little House.  Beberapa karya Marga T masih aku sukai, Rasanya pada masa itu aku bisa memuaskan keingininku untuk beli buku apa saja, tapi ternyata tidak banyak sisa peninggalannya. Namanya mahasiswa, saling pinjam buku, banyak yang tidak kembali, masa-masa ini yang menyebabkan aku mengambil kesimpulan, sebaiknya aku pelit dalam hal pinjam meminjam buku ini. Beberapa waktu yang lalu aku dengar di radio, para kutu buku biasanya tidak terikat dengan bukunya, dia tidak akan pelit meminjamkan bukunya, supaya dia juga bisa meminjam buku orang lain. Aku agak tidak sepaham dengan pendapat ini.

Awal-awal pernikahanku tahun 1990-an, tidak banyak koleksi buku yang masih ada jejaknya,  jaman susah duit lebih. Koleksi buku dimulai lagi saat anak-anakku bisa membaca. Aku membiasakan mereka untuk berekreasi ke toko buku, dengan iming-iming beli buku tentunya. Menyesuaikan diri dengan kebutuhan anakku, aku senang membeli novel-novel cerita anak mulai dari yang modern sampai yang klasik, ini agak banyak rupanya, lumayan untuk mengirit anggaran buku, karena bukunya sekaligus bisa dibaca anakku, setelah lulus screening dari ibunya:

  • Karya-karya Karl May seperti: serial Winnetou, Dan Damai di Bumi
  • Koleksi Astrid Lindgren: serial Pippi si kaus kaki panjang, Lotta
  • Serial Harry Potter
  • Serial Lord of the Ring

Setelah anak-anakku besar dan tinggal di kota terpisah, aku mulai berburu buku sendiri, tanpa harus memikirkan berbagi buku dengan mereka. Ternyata aku mulai bosan dengan jenis-jenis buku di atas. Ini tercermin dari jenis buku yang aku pilih:

  • Biografi: Steven Jobs, Oprah Winfrey
  • Berbau filsafat: Si Cacing dan kotoran kesayangannya – Ajahn Brahm
  • Novel-novel karya pengarang Turki seperti Orhan Pamuk (yang ini bukan bacaan ringan), Tariq Ali
  • Novel-novel pengarang Asia Timur dengan cerita budayanya yang sophisticated

Sayangnya tidak banyak novel pribumi yang aku pilih, bukan karena tidak bagus, tapi pilihan ceritanya tidak orisinal, kurang menarik. Mungkin karena ini bahasa ibuku, aku jadi sangat kritis dengan novel-novel pribumi tersebut. Tapi ada beberapa yang selalu aku tunggu karyanya, antara lain:

  • Andrea Hirata
  • Tere-Liye, ini sebetulnya cerita dunia anak biasa, tapi sangat pas penggambarannya
  • Pengarang buku Lima Menara, Ahmad Fuadi.

Rasanya jenis-jenis bacaan yang aku pilih ini banyak membentuk pribadiku selama ini. Mudah-mudahan bukan hanya seleraku saja yang berubah dari tahun ke tahun, tapi juga pribadiku berubah menjadi yang lebih baik, yang ini tidak bisa aku simpulkan sendiri, orang lain yang boleh mengatakan aku manusia baik atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: