Extra ordinary people: Prof. Dr. Padmosantjojo

Kadang -kadang bosan juga baca cerita fiksi yang mudah ditebak endingnya. Kalau rasa itu datang, aku akan mencari topik lain. Kali ini pilihanku jatuh pada sebuah otobiografi seorang dokter, yang pernah top karena berhasil memisahkan kembar siam Yuliana-Yuliani Prof.Dr.Padmosantjojo, kebetulan bukunya lagi obral, mana tebal lagi, lumayan untuk bacaan beberapa malam.

Seperti sudah kuduga, buku ini sangat menarik. Dasar orang pintar, biarpun pengalaman menulisnya paling banyak mungkin cuma jurnal kedokteran, buku ni tidak kalah dengan buku Dahlan Iskan yang dari sononya emang asli penulis. Sebagian besar bercerita tentang pengabdiannya di bidang bedah saraf Indonesia, yang sangat sepi ing pamrih, sampai sengaja cari istri yang mapan supaya kelangsungan rumah tangganya bisa aman dan sentosa. Buku ini tidak melulu berisi istilah-istilah kedokteran yang bikin pusing karena ada juga cerita masa kecil dokter Padmosantjojo, keluarga besarnya, masa pendudukan Jepang, masa-masa kuliahnya, hobbynya, karirnya di kedokteran.

Yang membuat sedikit miris adalah cerita masalah karirnya di bedah saraf yang menunjukkan betapa banyak terjadi pengabaian atau tidak adanya penghargaan negara terhadap orang-orang pintar di Indonesia. Paling jelas adalah cerita masalah pengangkatannya sebagai profesor oleh menteri diknas pada masa itu, yang terjadi karena adanya permintaan pemerintah Belanda untuk mengangkatnya sebagai profesor di universitas Groningen. Kok bisa ya, orang lain yang justru mengakui prestasinya. Hanya karena alasan kepangkatannya belum mencukupi. Bisa saya bayangkan, orang yang sibuk mengabdi seperti beliau, tidak menganggap penting urusan perpangkatan. Padahal kalau mengikuti kata hati, beliau sudah bakalan kabur dari Indonesia, mengingat keahlian langka seperti beliau sangat diminati di luar sono.

Kalau membaca kiprah dr Padmo di buku “aku dan bedah saraf Indonesia” ini, serasa tidak ada nilai pengabdiannya pekerjaanku sebagai akuntan. Semuanya berbau penyelamatan nyawa tanpa pamrih apalagi honor. Jadi malu kalau dengan pengabdian yang secuil saja sudah merasa hebat. Mudah-mudahan buku ini banyak dibaca para generasi muda yang sangat memerlukan rolemodel dari para extra ordinary people seperti beliau. Terimakasih ya Pak Padmo, sudah membagi cerita untuk kami, mudah-mudahan ada buku beginian yang lain lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: