Sosmed menciptakan manusia tidak produktif?

Tidak kenal sosmed hari gini… Bakal jadi pertanyaan. Asosial banget ya nih orang, gak punya akun facebook atau akunnya gak pernah update. Kenapa ya teman yang ini akun whatsapp-nya nebeng punya suami, apa gak keluar ijin suami untuk pegang smartphone sendiri? Walaupun itu pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah sampai langsung ke yang bersangkutan, paling tidak ada bisik-bisik dengan tetangga tentang topik itu.

Coba kita bayangkan dulu berapa alokasi waktu yang diberikan untuk sosmed ini. Ada teman-teman yang dari bangun tidur subuh sampai ditinggal tidur… Eksis terus di grup whatsapp, bukan cuma satu jenis media, tapi kayanya ada di setiap jenis media. Pertanyaannya… Apa ya mata pencaharian utamanya, yang kelihatannya bisa disambi habis-habisan dengan kebutuhan eksis sepanjang waktu di sosmed.

Untung sosmed ini mulai marak setelah anak-anakku lumayan gede, sehingga tidak ada cerita menyuap sambil posting, menyusui sambil chatting… Astaga. Kapan bisa menyiapkan bubur bergizi buat balita tercinta. Atau itu penyebab ramainya tempat penjualan bubur bayi siap saji, praktis dan tidak perlu waktu lama untuk belanja bahan serta menyiapkannya menjadi hidangan sehat untuk ananda.

Bayangkan anak-anak kita yang seharusnya butuh waktu banyak untuk baca buku pelajaran, bikin PR dan tugas-tugas sekolah. Kalau ortu tidak membatasi kegiatan sosmednya… Bagaimana mutu siswa-siswa kita jadinya. Tapi lain anak-anak, lain ortu. Contoh kesenangan utama anandaku terkait sosmed adalah mengupload foto-fotonya dari menit ke menit😱. Mungkin sekarang bukan jamannya anak-anak punya kegemaran membaca buku ya. Tidak ada lagi istilah si kutu buku untuk anak-anak era sosmed. Bahkan segudang buku bundanya di lemari buku samasekali tidak membangkitkan minat ananda untuk menyentuhnya. 

Kalau coba direnungkan, ada banyak waktu terbuang percuma karena terlalu terlibat dengan sosmed ini. Bahkan interaksi keluarga saja dilakukan lewat media ini. Akibatnya banyak orang tidak biasa membaca mimik lawan bicara, lebih paham emoticon yang dipakai untuk melambangkan perasaan lawan bicara😖😫😭😳😀😬. Lama-lama manusia mungkin akan kehilangan kemampuan berbicara dan mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata😬. Belum lagi produktivitas manusia yang kalau ada yang menghitung pasti sudah mengalami penurunan yang signifikan.

Ada juga sih yang menggunakan medsos untuk media membantu bermata pencaharian. Paling sedikit untuk media sarana promosinya, memperluas cakupan pasar dan konsumennya, berkomunikasi dengan konsumennya, melihat kondisi pesaing produk sejenis. Atau bisa juga dijadikan media mendapatkan informasi, misalnya resep-resep masakan, obat-obatan tradisional, mulai dari yang paten sampai dengan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan karena berasal dari sumber yang tidak kompeten😀

Menjadi produktif atau tidaknya medsos ini tergantung pada cara kita memanfaatkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: